Pesan dalam Workshop Kepenulisan Azma Nadia

Banyak pesan-pesan yang bisa saya dan kita petik dari Workshop kepenulisan mbk Azma Nadia yang saya tonton videonya di You Tube, yang kemudian saya catat poin-poin pentingnya. Seperti mbk Azma Nadia mengatakan, "Basic dari menulis apapun adalah menulis fiksi, puisi atau cerpen juga Novel, jika kalian sudah kuasai itu maka yang lain menjadi mudah, karena kita akan belajar dan terbiasa dengan simbol, deskripsi dan teka-teki."

Saya perhatikan menulis fiksi memang lumayan sulit, berbeda dengan non fiksi yang yang menurut saya fakta-fakta dan data-datanya sudah ada dan tulisannya juga bisa berasal dari diri sendiri seperti; menulis perjalanan keseharian yang nyatanya sudah ada nampak oleh mata, telinga dan hati yang kemudian di rangkai dalam tulisan. Sedangkan fiksi instrumenmennya kita mesti kreatif untuk mendapatkannya.

Saya percaya dengan kata-kata mbk Asma Nadia di atas bahwa basic untuk "bisa menulis" apapun adalah menulis fiksi atau lebih tepatnya menulis cerpen. Karena dalam tulisan cerpen, pemilihan katanya harus "kaya" agar menarik dibaca. Imajinasi kita juga harus kuat, sehingga dengan terbiasa menulis cerpen maka imajinasi bisa berkembang karena tulisan cerpen kita diasah untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu peristiwa dalam cerita kita. Dan saya yakin bahwa menulis cerpen tidaklah sulit kalau kita mau berusaha belajar, mungkin karena kurang terbiasa saja atau belum menulis sama sekali seperti saya ini.

Juga, cerita memang menarik, karena siapa sih yang tidak suka dengan cerita. Bahkan kitab sucipun di dalam narasi-narasinya banyak dalam bentuk cerita, tidak hanya itu dengan membaca cerita biasa akan sangat membekas di hati.

Selain poin di atas, ada beberapa poin-poin penting yang lain yang sempat saya catatat dalam penyampaian materi kepenulisan mbk Asma Nadia. Menurutnya juga, "Menulis itu di mulai dari keresahan (baik fiksi dan non fiksi), kunci buku-buku best seller adalah orang tidak hanya sekedar mendapatkan hiburan dalam buku itu tapi ada juga pemenuhan kebutuhannya."

Saya sangat setuju dengan pendapat mbk Asma Nadia ini. Kita menonton Film, membaca buku biasanya kita rela menghabiskan waktu berlama-lama, karena selain kita terhibur kita juga bisa mengambil faedah, hikmah dan ilmu yang bisa bermanfaat di kehidupan nyata kita. Seperti ketika saya membaca buku "My Stupid Boss", saya memang terhibur dengan tingkah kocak dari si boss dan kerani serta karyawan-karyawannya. Namun selain saya terhibur tertawa terbahak. Saya juga mendapatkan pengetahuan tentang seperti apa pola hubungan antara karyawan dan bossnya, bagaimana mangatur sebuah perusahaan yang baik, arus cash, hubungan perusahaan dan supplayer dan lain sebagainya. Selain itu, karena buku itu oleh penulisnya banyak menggunakan bahasa Inggris, Malaysia dan bahkan ada bahasa China, Thailand, Vietnam, Banglades di dalamnya. Saya pun bisa belajar banyak bahasa dari buku itu. Juga, budaya orang Malaysia yang menjadi setting dari cerita MSB.

Kemudian poin selanjutnya, "Cari buku-buku best seller (di toko buku) yang top ten (untuk kita pelajari dan buku kita juga bisa best seller) bila tidak menemukan buku yang kita cari maka kita yang akan membuatnya, pelajari juga buku-buku yang sudah diangkat ke layar lebar karena harapannya buku kita tidak hanya sekedar di terbitkan tapi juga bisa diangkat kelayar lebar (yang buku Novel)."

Selanjutnya, "Ada yang mengatakan karya sastra yang bagus itu ketika tulisan kita semakin tinggi bahasanya sehingga sulit di baca orang, saya (mbk Azma) tidak setuju dengan itu, karena menulis itu berbagi, berjuang dan kita mengangkat nilai-nilai yang penting dalam kehidupan agar pembaca bisa ngeh dengan tulisan kita. Jadi kalau sulit-sulit bagaimana bisa berbagi, kita mesti menyederhanakan hal-hal yang rumit karena pembaca saya ada yang satpam, ob, dan lain-lain."

Selanjutnya "Penulis itu seharusnya tidak gampang stress karena setiap ada masalah bisa jadi bahan tulisan sepeti; bila martua marah (ketawa kecil) kita bisa menggambarkan orang yang sedang marah seperti apa."

Saya pun seperti itu ketika saya lagi galau atau ada masalah biasanya saya menulisnya dan biasanya memang kita merasa plong ketika habis kita tuliskan permasalahan itu. Sebaimana kang Abik juga mengatakan, "Dari pada kita ungkapkan kemarahan kita dan malah menjadi tambah parah masalahnya lebih baik kita tuliskan."

Kemudian selanjutnya, "Untuk mendapatkan pembaca yang banyak bukan kita menulis karena untuk diri kita sendiri, kita mesti pintar melihat pasar apa yang menjadi kebutuhan pembaca seperti jomblo, patah hati yang semua orang merasakannya, kita juga membuat tulisan yang bisa menertawakan diri mereka sendiri agar mereka terusik bahwa 'Ia, saya memang tidak boleh seperti itu'."

Lalu pesan berikutnya, "Perbedaan antara tulisan non fiksi dan fiksi, kalau non fiksi "gagasan" yang ingin diperjuangkan harus kuat sedangkan fiksi yang kuat dan jelas adalah "konfliknya", juga fiksi jangan terlalu banyak pesan verbalnya karena fiksi bukan ceramah namun pesan dari fiksi adalah dari scenenya."

Kemudian pesan salanjutnya, "Dalam menulis kita jangan mengedit sampai tulisan kita selesai dan untuk bisa menulis buku yang 180 halaman bisa menggunakan metode, sehari tulis 1/3 halaman kalau tidak 2 hari 1 halaman. Sebulan 15 halaman, sehingga dalam setahun dapat 180 halaman (angkanya saya ubah dari 120 menjadi 180 hlm), kalau melanggar pake hukuman, seperti untuk tidak melakukan hal yang kita sukai. Untuk mendapatkan ide tulisan kita buka mata, telinga dan asah hati, menjadi penulis yang beda maka tulis pengalaman hidup kita karena setiap kita punya kekayaan. Sehingga penulis itu jangan bete, tapi suka bertanya, kalau ada yang bertengkar kita bisa mengambil dialognya untuk dijadikan tulisan, penulis memang agak kepo, juga rajin browsing, twitter dan lainnya. Penulis juga jangan menulis untuk kita sesali nantinya, karena tulisan kita akan menjadi rekaman seumur hidup sehingga jangan menulis yang melanggar etika. Niatkan menulis untuk berjuang."

Selanjutnya, "Untuk menyemangati diri agar selalu bersemangat menulis maka temukan alasan yang kuat kenapa kita menulis atau temukan why-nya, seperti saya (mbk Azma) why-nya adalah karena ibunya, menulis untuk anak-anak saya agar ketika saya sudah tidak ada mereka tetap ada yang menemani yaitu tulisan-tulisan saya dan juga menulis adalah amal jariyah, jadi temukan alasannya yang kuat."

Dan terakhir pesan dari mbk Azma Nadia adalah, "Ada beberapa kesalahan dalam menulis itu, yaitu; 1) Judul jangan terlalu pendek dan terlalu panjang kecuali kalau sudah penulis kondang boleh pendek, judul juga harus sesuai dengan isi kalau komedi atau roman judulnya juga seperti itu, judul juga hanya menggambarkan bukan membocorkan, 2) Opening tidak menarik, makanya kuliahnya seorang penulis adalah membaca untuk mendapatkan tulisan yang bagus, 3) Fokus jangan terlalu banyak yang mau ditulis, 4) Bertele-tele, 5) Konfilk tidak menarik."

Nah, itulah pesan-pesan dari mbk Azma Nadia yang bisa memotivasi kita menjadi penulis handal seperti beliau.





Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komen,juga kritik dan masukan yang membangun, terima kasih ...