Serial Resensi Buku: "Fadli Zon Menyelusuri Ruang Waktu"

Untuk memulai "serial resensi" buku-buku yang akan saya submit ke dalam blog ini, buku pertama yang saya rensensi adalah buku autobiografi bapak Fadli Zon. Sebenarnya sudah banyak buku yang saya baca dengan berbagai genre, namun  kegiatan meresensi buku ini baru saya lakukan, setelah saya berfikir mengapa tidak saya resensi saja setiap buku yang saya baca, faedahnya tentu banyak, selain menambah dan menguatkan memori saya terhadap apa-apa yang ada dalam buku yang saya baca, juga bisa bermanfaat bagi orang lain juga yang membaca resensi bukunya. Karena setiap buku tentu ada hal-hal baik bisa kita ambil saripati darinya.

Sebagaimana pepatah juga mengatakan "ikatlah ilmu dengan tulisan", maka meresensi buku juga termasuk dalam mengikat ilmu itu. Baik, adapun resensi buku dari buku bapak Fadli Zon sebagai berikut:

Buku ini adalah buku autobiografi dari bapak Fadli Zon yang dikenal sebagai Wakil Ketua DPR-RI 2014-2019 dan juga Wakil Ketum Partai GERINDRA. Fadli Zon dilahirkan secara sesar di sebuah rumah sakit di Jakarta pada tahun 1 Juni 1971. Walaupun FZ tinggal dan besar di Jakarta namun kedua orang tuanya berasal dari Sumatera Barat. Di sekolahnya, FZ terkenal sebagai anak yang pandai, karena sejak dari SD FZ selalu juara kelas. Saat SD FZ juga sudah sering menulis puisi, menurutnya jiwa seninya mengalir dari ayahnya yang seorang guru dan sutradara drama sebelum pindah ke Jakarta. puisinya ketika itu mengkritisi tentang adanya diskriminasi perantau dengan orang asli Jakarta. 

Ketika memasuki masa SMP, FZ dua kali mengalami kecelakaan maut yang hampir menewaskan dirinya. Pertama, saat ada kegiatan ekstrakulikuler yang dia ikuti diluar sekolah bersama dengan gurunya di dalam sebuah angkutan umum yang mereka tumpangi, tiba-tiba ditabrak oleh mobil sehingga membuat FZ terlempar beberapa meter, FZ pingsan tidak sadarkan diri  dan kakinya patah. FZ tidak bisa ke sekolah selama beberapa hari, Takut ketinggalan pelajaran, FZ belajar dari catatan temannya, walaupun sakit FZ tetap juara kelas. Kedua, beberapa bulan setelahnya kejadian tersebut dan terjadi satu hari setelah hari ulang tahun FZ, bersama dengan ayahnya ketika mengendarai motor di daerah bogor, mereka mengalami kecelakaan, yang menewaskan ayah FZ sedangkan FZ sendiri kembali mangalami patah kaki. Karena ayahnya yang dia sangat sayangi sudah tidak ada, membuat FZ hampir putus asa, namun dia yakin bahwa dari kedua kecelakaan yang dia alami tersebut dan masih diberikan hidup, mungkin Allah punya rencana lain baginya. Menurutnya dia harus memanfaatkan hari-harinya dengan sebaik-baiknya.

Karena kepergian ayah sebagai kepala keluarga sudah tidak ada dan walaupun ibunya berasal dari keluarga yang lumayan berada namun FZ dan kedua adiknya harus bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Fadli Zon berhasil masuk ke SMA favorit di Jakarta ketika itu yaitu SMAN 31, karena nilainya bagus ketika SMP. Di SMAN 31 dia manfaatkan untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler, organisasi sekolah, dan mengiktuti seminar-seminar dalam dan luar sekolah. di seminar itu dia selalu bertanya, menurutnya untuk melatih mental dan keberaniannya bahkan FZ pernah berdebat dengan pembicara seminar. Dari kebiasaannya mengikuti seminar nantinya menjadikannya terbiasa tampil di depan umum, ketika SMA FZ juga termasuk pencinta buku yang betumpuk di kamarnya. FZ pernah mengikuti program pertukaran pelajar melalui beasiswa  AFS (American Field Service) ke San Antonio, Texas, Amarika Serikat selama setahun dan lulus dengan predikat Summa Cum Laude. Ketika malam penghargaan bagi siswa-siswa senior yang akan lulus, FZ mendapatkan penghargaan 'siswa paling ambisius'.

Setelah selesai SMA, Fadli Zon ketika itu berumur 19 tahun, sebelum kuliah sudah menjadi wartawan, kolumnis dan menulis berita-berita berat yang dipercayakan kepadanya di harian terbit, suara hidayatullah, Qiblat dll. Karena kemampuannya yang bagus dalam bahasa asing dia dipercayakan menulis berita perang teluk yang dia terjemahkan dan tulis di berita CNN. Siaran CNN yang saat itu belum banyak orang yang bisa mengakses beritanya karena mahal. Lalu menjadi keuntungan tersendiri bagi harian terbit. Dari kebiasaannya menulis, Ketika kuliah FZ banyak membiayai hidup dan biaya kuliahnya dari menulis. sampai pernah beli mobil dan hp yang masih langkah pada saat itu.

Fadli Zon kemudian di terima di UI dan masuk ke Fakultas Sastra jurusan Sastra Rusia, walaupun disarankan oleh beberapa tokoh untuk masuk ke jurusan sains, ekonomi atau hukum namun FZ tetap memilih masuk ke jurusan Sastra Rusia, menurutnya pada saat itu ada dua kekuatan dunia yaitu Amerika dan Uni Soviet (Uni Soviet kemudian terpisah menjadi 15 negara dan 50 % dari penduduknya menjadi Negara Rusia). menurutnya ada yang perlu dipelajari dari sejarah Rusia. Bagaimana negara ini menjadi negara adidaya dan punya pengaruh luas. Proses pencarian identitas Rusia dari masa ke masa melahirkan sejarah yang perih. Proses Nation Building-nya menarik. Rusia pernah dijajah Mongolia selama 3,5 abad. Ini mirip dengan Indonesia yang pernah dijajah Belanda selama 3,5 abad. Perjalanan sejarahnya luar biasa. Dari kepangeranan kecil, Peter Agung, Katerina Agung, sampai Revolusi Bolshevik, lompatannya luar biasa.

Pandangan FZ dalam pendidikan juga menarik, FZ beranggapan bahwa sistem pendidikan Link and Match bukan sesuatu yang di setujuinya karena hanya akan menjadikan manusia hanya sekrup dalam industri dan pembangunan. Pendidikan harus membebaskan, mencerahkan, dan menggali seluruh potensi yang ada pada manusia untuk menjadi manusia-manusia yang multidimensi, bukan manusia robot satu dimensi.

Dan untuk lebih jelasnya autobiografi dari Fadli Zon, silahkan baca sendiri bukunya.....

Terakhir, buku ini diberi judul dengan "Fadli Zon Menyelusuri Lorong Waktu", itu ada filosofi sendiri bagi FZ, yaitu suatu ketika saat dia masih SD dia bertamu ke rumah omnya bapak Taufiq Ismail (Pak Taufiq menikah dengan saudara ibu FZ) yang sastrawan itu, dia singgah di perpustakaan pak Taufiq di lantai dua, di sana ada Imam Prasodjo yang saat itu sudah jadi mahasiswa dan tinggal di rumah pak Taufiq sebagai anak angkatnya.  Ketika Fadli Zon ingin masuk keperpustakaan pak Imam berkata, "kamu mau apa?" FZ jawab dia ingin baca buku. Kemudian FZ diberitahu oleh pak Imam, "kalau kau mau baca buku lebih baik baca buku biografi tokoh-tokoh dunia dulu, lalu tokoh nasional kemudian nabi-nabi dan tokoh Islam". Akhirnya nasehat pak Imam pun diikuti oleh FZ, dia baca buku mitologi yunani, Mahatma Gandhi, tokoh nasional dll. 

Menurut FZ membaca biografi itu penting karena kadang kita menghadapi masalah yang sama dengan yang dihadapi tokoh tersebut. Dengan mengetahui bagaimana tokoh ini mengatasi masalahnya, kita memiliki referensi untuk memecahkan persoalan kita. Bisa mengikuti cara mereka, bisa pula menggunakan cara kita. Menurutnya biografi adalah pembelajaran berharga, menggali pengalaman orang lain, juga "mencurinya". Jika kita menghadapi suatu masalah dari nol, akan menekan waktu panjang karena harus melewati periode trial and error. Namun, jika kita tahu apa yang mereka lakukan, kita bisa memotong waktu mengatasi masalah itu tanpa perlu dari nol lagi seperti yang mereka jalani. Jadi, semacam belajar pengalaman hidup orang lain dan mencuri waktu dalam menghadapi tantangan hidup.

Selamat membaca buku ini, untuk menyusuri ruang waktu Fadli Zon.        

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komen,juga kritik dan masukan yang membangun, terima kasih ...