Jumat, 4 Januari 2019....
Hari ini saya shalat jumat dikampus UIN Suka, saya tidak menyangka bahwa yang akan menjadi khatib adalah Rektor UIN Suka, Prof KH Yudian Wahyudi. Seperti biasa bila lagi menjadi pembicara maka beliau berbicara seperti menggertak orang, seperti orator yang lagi demo di jalan. Atau seperti seorang bapak yang memarahi anaknya karena sudah berhari-hari tidak pulang.
Prof Yudian mengawali ceramah jumatnya dengan pelan, santai, dengan membaca tahmid dan pujian-pujian kepada Allah sebagaimana khatib berceramah. Setelah itu keluarlah singa padang pasir itu, yang mengaung di ruangan masjid UIN suka, yang lagi tidur diganggu syaiton bisa terbangun olehnya, isi ceramahnya lebih banyak menyinggung dan mengarah kepada dosen-dosennya yang lagi studi S3 agar bisa secepatnya menyelesaikan studinya, apalagi yang biasiswa negara. Adapun isi ceramahnya kurang lebih seperti berikut:
"Saudara, saudara.. Sekarang kita sudah berada di tahun 2019, yang artinya kita sudah melewati tahun 2018. Dalam Alquran bila melihat masa depan maka yang dimaksud adalah yaumuddin, hari agama (ada hening..... berhenti sejenak. mungkin beliau salah, mungkin yang beliau maksud 'hari pembalasan'... kemudian lanjut kembali) yang artinya kita harus bisa memandang masa depan. Di dalam Islam ada dua kiamat yaitu kiamat kubra dan sugra, kiamat kecil dan besar. Kiamat besar akan datang pada saat semua alam Raya di hancurkan (ada tambahan kata-kata saya, saya agak lupa, tapi maksudnya kurang lebih begitu, lanjut) sedangkan kiamat kecil sehari-hari bisa kita rasakan yaitu yang ada dalam hati kita (lalu ceramah mulai menyinggung dosen-dosennya, suasana mulai agak lain) seperti dosen-dosen kita ini yang lagi mengambil doktor atau post doktor khususnya yang dibiayai oleh negara untuk secepatnya menyelesaikan desertasinya... (Suara pak Rektor Meninggi) karena itu... sama saja orang yang korupsi, makan uang rakyat bila menunda-nunda desertasi. bukan hanya anggota dewan yang korupsi yang sering kalian permasalahkan itu!!.. Saya kan selalu bilang untuk menyelesaikan desertasi, tesis dan sebagainya. Bahwa menyelesaikan semua itu butuh proses seperti konsep Alquran wastainu bissobri wassala. bissobri di situ adalah sabar dalam mengerjakannya, bukan yang instan-instan itu, klu mau yang begitu nanti jadi plagiasi sana sini. Untuk mengerjakan itu ada caranya (sesekali terdengar dari hidung beliau suara 'khuuuuhh' seperti orang yang lagi flu, yang menjadi ciri khasnya). Dalam 30 hari bisa jadi tiga puluh halaman, sehari satu halaman dan dalam satu halaman minimal revisi 3 kali, dengan membaca 6 referensi buku setiap halamannya, jadi menyelesaikan desertasi tidak cukup sampai satu tahun... Itulah kenapa umat Islam mundur karena yang selalu saya katakan, bahwa ketika di tsanawiyah dulu, guru-guru kita mengajarkan yang ilmu-ilmu agama saja dan menghilangkan causalitas, hukum sebab akibat atau hukum alam, klu kita berusaha maka hasilnya pun kita akan dapatkan. Jadi tadi, bissobri wa shalah (suaranya pelan lagi) setelah sabar kemudian kita shalat. (lalu meninggi lagi) shalat disini jangan hanya dipahami shalat lima waktu, tapi shalat hajat, shalat minta doa kepada Allah agar bisa di mudahkan dalam urusan. Jadi begitu ya, apalagi kampus kita, secara institusi sudah mendapatkan akreditasi A, lalu akreditasi A ini mau kita apakan. Baik sekian (suaranya turun kembali) akulu kaulohazha......dst".
Itulah kurang lebih isi ceramah Pak Rektor yang berapi-api seperti biasanya.
