Maulid Nabi dan Persoalan Bangsa

Hari ini tanggal 20 November bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal tahun 2018 M/1344 H, diperingati hari maulid (kelahiran) nabi muhammad Saw: Nabi akhir zaman, Nabi terakhir yang diutus ke-bumi, Nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan saja, rahmat hanya bagi umat Islam. Namun rahmatnya juga bagi: binatang, tumbuhan, orang yang bukan Islam, bumi, langit dan segala isinya merasakan rahmat dari-Nya.

Dan tidak hanya itu beliaupun tekenal dengan budi pekertinya yang baik. Bahkan sebelum diberikan wahyu dan dilantik menjadi nabi. Pada waktu muda beliau sudah di juluki dengan al-amin (orang yang dapat dipercaya), oleh masyarakat makkah pada waktu itu. Seperti peristiwa berikut, ketika hajar aswad (batu hitam disamping ka'bah yang disebut juga batu yang berasal dari surga) lepas dari ka'bah karena terjadi pemugaran ka'bah. Proses terakhir renovasi tersebut dengan mengembalikan batu hajar aswad ketempatnya. Berikut ceritanya...

---

Jadi setelah batu hajar aswad ingin dikembalikan ke tempatnya, seluruh pemuka suku/kabilah yang ada di makkah. Semua merasa berhak untuk memasang kembali ketempatnya. Terjadilah kebuntuan dan perselisihan di antara mereka. Batu hajar aswad tidak balik-balik ke tempatnya. Mereka mencari solusinya. Akhirnya salah satu dari mereka mengusulkan, "siapa yang pertama masuk ke masjidil haram maka dialah yang menjadi hakim atas persoalan ini."

Dan dengan izin Allah yang pertama masuk adalah nabi Muhammad Saw yang pada waktu itu masih berumur 35 tahun dan belum menjadi nabi. Maka jadilah Muhammad muda menjadi hakimnya. Dan dengan cerdas dan bijak beliau menyelesaikan persoalan peletakkan hajar aswad ke tempatnya. Agar tidak terjadi konflik,  maka beliaupun membentang sebuah 'kain'. Di atas kain tersebut di letakkanlah batu hajar aswad. Setelah itu seluruh pemuka kabilah memegang ujung dan sisi kain tersebut kemudian bersama-sama meletakkan batu hajar aswad ketempatnya. Semua pemuka kabilah tersebut-pun puas dengan selusi tersebut.

Disini menunjukkan bagamana nabi Muhammad sudah punya jiwa kepemimpinan. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul atau sebelum beliau di musuhi masyarakat makkah karena mengajarkan agama Islam.

----

Lalu bagaimana kita memaknai peringatan maulid nabi Muhammad hari ini. Terutama dari sudut pandang persoalan bangsa kita?, tentu menjadi PR kita bersama. Nabi Muhammad yang terkenal dengan empat sifat utamanya yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fatanah (cerdas) dan tabliq (menyampaikan).  Mari kita bedah satu persatu dari kacamata persoalan bangsa kita hari ini:

Pertama, Siddiq alias jujur. Bagaimana bangsa kita sekarang mengenai nilai-nilai kejujuran?...  Tak terbayang berapa banyak pejabat kita di tahun 2018 ini yang masuk tahanan besi, karena kasus korupsi. Sebut saja, bapak Setnov, mantan ketua DPR, Taufik Kurniawan Wakil Ketua DPR yang baru-baru tertangkap KPK, dan 19 Kepala Daerah lainnya yang harus menggunakan rompi orange.

Kedua, amanah. Hal ini-pun juga menjadi persoalan bangsa kita hari ini. Bagaimana seorang kepala sekolah yang tidak menjalankan fungsinya sebagai pemimpin di lingkungan sekolahnya, yang seharusnya dia menjadi contoh. Malah membuat malu dengan tindakan asusila yang dilakukan terhadap bawahannya.

Sebut saja kasus yang menimpa Baiq Nuril baru-baru ini, yang harus berhadapan dengan hukum. Karena mengungkap ke publik mengenai kasus asusila yang dibuat oleh pemimpinnya di sekolah.

Atau seorang guru, wakil rakyat, maupun para pemimpin kita, hendaknya amanah yang di berikan oleh rakyat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyatnya. Berat memang, namun bila disyukuri, dinikmati, dan diambil hikmahnya, maka hal tersebut tidak akan terasa berat.

Karena tentunya sebelum memilih untuk mengabdikan diri untuk rakyat, tentunya sudah paham akan kwuensekuensi yang akan diterima. Hitung-hitung hal tersebut, adalah jihad dijalan Allah. Makanya orang yang berada di posisi tersebut adalah orang-orang pilihan dan orang-orang yang hebat.

Ketiga, tablig. yang biasa diartikan dengan menyampaikan.Persoalannya adalah terkedang orang takut, menyampaikan kebenaran. Karena tekanan-tekanan. Atau orang yang suka beretorika tapi tidak bisa mempraktekkannya. Namun syukur negara kita sebagai negara demokrasi. Ruang-ruang publik untuk bisa menyatakan pendapat, masih terbuka. Orang yang berdemo masih disediakan tempat menyampaikan aspirasi.

Bagaimana jadinya bila negara kita seperti di saudi sana. Kebebasan berpendapat seakan berkurang. Sebagaimana yang terjadi dengan kasus wartawan Saudi, Jamal Kashoggi. Harus kehilangan nyawa karena kritikan-kritikannya terhadap pemerintahan Saudi. Bagaimana jadinya bila itu terjadi di Indonesia, maka orang enggan dan takut beropini diruang publik. Mungkin akan banyak wartawan-wartawan kita yang akan hilang tiba-tiba tanpa jejak, karena tulisan-tulisannya. Sungguh, ngeri.

Kemudian yang keempat, fatanah yaitu cerdas. Hendaknya negara kita memiliki rakyat yang cerdas, tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga cerdas secara, emosional maupun spritual. Agar rakyat Indonesia menjadi Insan kamil, manusia paripurna. Bukan mengakatakan bahwa rakyat Indonesia harus jadi malaikat, yang jauh dari dosa atau harus sempurna, bukan seperti itu. Karena yang maha sempurna hanyalah Allah Swt.

Namun Insan kamil adalah mengupayakan diri agar secara intelektual, emosional, dan spritual. Bisa seimbang dalam jiwa rakyat Indonesia. Agar rakyat Indonesia tidak sakit-sakitan badannya, tidak miskin (harta ataupun jiwanya), tidak anti tuhan. Sehingga rakyat kita jauh dari kasus busung lapar, bunuh diri, merampok, begal dan lain sebagainya.

----

Cerdas secara intelektual diperoleh melalui belajar. Baik, disekolah ataupun belajar melalui buku-buku yang ada. Cerdas secara emosional diperoleh dengan bergaul, olahraga, game dan lain sebagainya. Dan cerdas secara spritual diperoleh melalui mendekatkan diri kepada tuhan atau Allah Swt. Ibadah, shalat, puasa dan lain sebagainya, bagi orang Islam.

Itulah keempat sifat utama dari nabi Muhammad Saw,  yang tentunya bisa digunakan sebagai solusi dalam memecahkan persoalan bangsa bukan malah sebaliknya, seperti yang terjadi dengan kasus-kasus yang menimpa bangsa kita akhir-akhir ini. Agar bangsa kita bisa menjadi baldatun toyyibah wa rabbun gafur.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komen,juga kritik dan masukan yang membangun, terima kasih ...